SUSTER APUNG

Published 30/06/2012 by onpumooirahayu

SUSTER APUNG

I

bu Hj. Andi Rabiah atau yang lebih dikenal dengan nama Suster Apung bukan lah seorang bidan yang sebetulnya itu adalah diluar kewenangan beliau sebagai suster. Ibu Hj. Andi Rabiah dalam keiklasannya itu banyak menyimpan hal-hal yang beresiko tinggi, beliau merelakan hidupnya dan citraanya sebagai ibu rumah tangga hanya untuk menyelamatkan nyawa orang lain. Tidak ada rasa takut beliau akan dikenakan hokum karena sudah melakukan mal praktek yang bila fatal belia akan menghilangkan nyawa orang lain tidak pula dia cemas atau bahkan resah dia akan tenggelam atau terseret ombak yang tidak menentu, dalam perjalanan untuk memperjuangkan hidup orang lain tanpa menghiraukan apapun.

 

Beliau bertugas dipulau sejak 10 gustus 1978 sampai sekarang. Kemudian ia pun harus merujuk pasien dari 10 pulau karena dari 25 pulau hanya ada 12 orang yang bertugas. Tidak terfikir olehnya bahwa ia akan menghabiskan separuh hidupnya mengarungi lautan di Kepulauan Sulawesi dan Flores untuk menyembuhkan pasien-pasien yang tersebar di sekitar pulau-pulau kecil dengan hanya berbekal tekad yang kuat serta dorongan dari para masyarakat yang sudah mempercayainya untuk dapat menyelamatkan keluarganya dan perahu.

Dalam melakukan kegiatannya beliau tidak pernah mengeluh sedikitpun, bahkan pada tahun pertamanya ia bekerja sebagai perawat, beliu selalu menagih janji kepada kepala desa yang pernah menjanjikannya untuk melaut. Sebagai perawat, ia memiliki prinsip yaitu bekerja sebagai pelayanan dan tanggung jawab kepada masyarakat. Beliau memandang bahwa mereka juga saudara kita dan rakyat Indonesia berhak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Seperti yang ia katakan suatu waktu “Tidak ada yang boleh meninggal karena melahirkan dan tidak ada pula yang boleh meninggal”. Sebuah sikap yang terus diperjuangkan sekuat tenaga meskipun selalu mengarungi lautan yang sering kali tidak ramah.

Walaupun gaji yang beliau dapat tidaklah besar dan tidak ada jaminan asuransi, namun Ia tetap mengabdikan dirinya untuk membantu pasien yang membutuhkan jasanya. Karena beliau berfikir jika saya tidak berbuat seperti itu, maka satu kata saja yang masyarakat tunggu yaitu (meninggal). Namun  jika beliau tindaki mungkin masih ada harapan untukmasyarakat bisa sembuh kembali, apakah dia masih  bisa hidup, apakah panjang umur, atau bahkan meninggal. Tapi jika saja beliau tidak berbuat seperti itu, engambil tindakan, mungkin saja pasien-pasien itu meninggal, atau pastilah bahwa dia akan meninggal.

Bahkan ujar beliau Waktu pertama kali datang ke pualu, masyarakat belum mengenal kesehatan mereka masih mempercayai dukun, dijemput dari pulau sapuka naik sampan tidak ia hiraukan demi keselamatan orang lain yang membutuhkan beliau. Sampainya ia dipulau, pasien tidak mengetahui atau bahkan tidak mengenal kesehatan. Beliau sempat bingung karena memang masyarakat itu tidak mengenal kesehatan dan tidak ingin diperiksa olehnya. Namun tekad dari seorang Suster Apung ini sangatlah kuat beliau tidak bosan untuk memberitahukan tentaang pekerjaannya sampai pada akhirny para masyarakatpun paha dan mulai dapat mempercayainya.

Ibu Rabiah menggambarkan, jarak tempuh dari wilayah tengah ke wilayah timur berkisar 11 jam perjalanan dengan transportasi air. Bahkan, ada pulau yang letaknya lebih dekat ke Lombok ketimbang ke Makassar sehingga perjalanan butuh waktu lebih lama lagi.”Kalau mau ke pulau untuk mengobati pasien, berangkat pagi-pagi dengan perahu motor. Rata-rata baru sampai di tujuan saat magrib,” kata Ibu Rabiah. Selama menjalani pekerjaanya sebagai perawat, tak jarang Ibu Rabiah didera kesulitan. Seperti kapal yang mungkin rata dengan ombak kemudian baju na pun basah dibadan ia sendiri. Perahunya bocor adalah salah satu kendala yang kerap dialaminya. Pada 1979, perahu motornya malah pernah menghantam karang. Ibu Rabiah dan 14 orang penumpang lainnya terdampar tujuh hari tujuh malam di Pulau Karang Kapas, pulau karang tanpa tumbuhan dan tak berpenghuni.

“Kapal yang saya tumpangi kebetulan membawa penyu. Lalu, kami membakar besi dan menulis kapal Pelita Jaya terdampar di atas karang kapas tanggal 6, bulan 3, malam Selasa, di atas kulit penyu yang sudah mati. Setelah tujuh hari, akhirnya datang bantuan dari Pulau Sailus Kecil,” kenang Ibu Rabiah.

Dalam peristiwa itu, Ibu Rabiah harus berbagi nasi yang dimasak dari beras seliter untuk 14 orang per hari. Sebagai bahan bakar, ia menggunakan kayu dari puing-puing kapal yang rusak terhantam karang. Dalam menjalankan tugasnya, suster Ibu Rabiah memang harus menggunakan perahu dan melawan ombak. Itu dilakoninya dengan ikhlas. Tujuannya hanya satu: mendatangi orang yang membutuhkan pertolongannya. Ke pelosok mana pun Ibu Rabiah datang untuk menolong. Ia mendedikasikan hidupnya untuk orang banyak sepanjang 30 tahun. Tanpa keluh, tanpa bosan, tanpa lelah.

Ibu Rabiah tidak malu mengakui perbuatannya ketika harus memberikan cairan infus yang sudah kadaluarsa lima tahun kepada pasiennya. Itu terjadi 10 tahun lalu. Di Pulau Sapuka, penyakit diare mewabah dan persediaan cairan infus dipuskesmas sudah habis, sementara satu pasien dalam kondisi kritis.

Pada saat itu cairan infus yang ada tinggal peninggalan temannya yang sudah pindah tugas. Saya ragu-ragu juga, pasang…tidak…pasang…tidak. Akhirnya saya pasang. Setelah masuk tiga botol, saya lihat ada perubahan dan saya tambahkan sampai 10 botol. Alhamdulillah, si pasien sembuh dan masih sehat sampai sekarang,” tutur Ibu Rabiah. “Pilihannya waktu itu, kalau saya tidak infus si pasien akan mati. Jadi, saya ambil resiko. saya infus biar pakai cairan kadaluarsa,” ungkap Ibu Rabiah.

Ibu Rabiah, ibu dari empat orang anak, mengenal dunia medis dari neneknya. Setamat SMP, ia terus memperdalam soal medis. Ia ingin mengikuti jejak neneknya, tenaga medis pertama di kampungnya. Dorongan niat yang begitu kuat membuat Ibu Rabiah tak mengeluh ketika diterima jadi PNS dengan gaji pertama Rp 17 ribu. Ia pun tak menolak ditugaskan di pulau. Sampai sekarang, dengan statusnya yang menjanda (suami meninggal), misi sebagai penyembuh itu ia jalani. Hitungannya sudah 30 tahun!
Nama Ibu Rabiah dan julukan ‘Suster Apung’ mencuat sejak muncul di acara Kick Andy tayangan Metro TV. Ia mengaku pernah diberi uang Rp 200 juta oleh Wapres M Jusuf Kalla. Uang itu ia pakai untuk membeli perahu, sembako, solar, dan bayar ABK.

Namun Ibu Hj Andi tidak pernah lupa akan seorang pemimpin dalam keluarganya, Karen saat ini beliaulah yang menjadi tumpuan hidup anaknya untuk mencari nafkah. Setelah suaminya yang meninggal, dan masih ada anak yang menginginkan bersekolah kembali dan berharap dapat melanjutkan pendidikannya kembali. Pulang pukul 1 malampun tidak pernah ia mengeluh.

Hingga saat ini, Ibu Rabiah si “Suster Apung” berkeliling dari satu pulau ke pulau terpencil lainnya untuk mengobati pasien. Dan, perjalanannya untuk berjihad seorang akhwat solehah menjalankan niat mulia untuk orang banyak bergulir lebih lancar berkat perahu baru miliknya hasil pemberian JK.

Dedikasi untuk mujahid ini yaitu ikhlas, penyabar, pemimpin dalam keluarga untuk menafkahi anaknya, semangat pantang menyerah, tegar, pengorbanan, untuk membantu sesame, bertanggung jawab, dan memiliki nilai budaya yang luhur adalah sedikit perspeksi dari Ibu Hj. Andi Ibu Hj Rabiah, seorang sosok yang patut menjadi teladan, panutan bagi kita semua.

Pesan-pesan moral yang ibu rabiah ungkapkan yakni “Mudah-mudahan apa yang telah beliau rintis selama ini dapat lebih berkembang dan maju. Dan mudah-mudahan pemerintah merasa kasihan, dan dapat memberi sedikit insentif daerah terpencil. Kita memang sudah dijanji, tapi sampai saat ini belum terpenuhi, Tapi kita hanya bisa bersabar, karena ada kabar bahwa itu akan di rapel jadi mudah-mudahan di rape. Karena kalau tidak seperti itu, maka apa yang ada hari ini, mungkin juga untuk besok.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: